Ketika Allah Berkata, ‘Engkau Aku Dahulukan’: Rahasia Doa untuk Sesama

Indonesia, Media Pojok Nasional –
Ada saat dalam hidup ketika kita merasa kuat. Merasa mampu. Merasa bisa mengatur segalanya. Namun satu ujian kecil saja cukup membuat dada sesak, pikiran runtuh, dan lutut gemetar. Di situlah kita sadar, kita ini fakir.

Sebagaimana dawuh almarhum KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi, dunia ini tempat kurang. Tidak ada yang benar-benar sempurna di sini. Yang kaya masih kurang tenang. Yang sehat masih kurang aman. Yang terpandang masih kurang damai. Semua menyimpan celah. Semua membawa kebutuhan.

Fakir bukan sekadar tidak punya. Fakir adalah keadaan jiwa yang sadar bahwa setiap detik hidupnya bergantung pada Allah SWT.

Coba renungkan…
Siapa yang menjaga jantung ini tetap berdetak saat kita tertidur?
Siapa yang menahan musibah yang hampir saja menimpa kita, padahal kita tidak tahu apa-apa?
Berapa banyak bahaya yang Allah palingkan tanpa kita sadari?

Kita berjalan di bumi ini sebenarnya dalam lindungan yang tidak terlihat.
Secara lahir, kita butuh rahmat-Nya untuk hidup.
Secara batin, kita butuh keselamatan agar tidak tersesat.
Kita butuh ampunan atas dosa yang bahkan kita lupa pernah melakukannya.

Itulah fakir.

Dan ketika hati benar-benar merasa fakir, ia menjadi lembut. Ia tidak mudah meremehkan orang lain. Ia tidak ringan menghakimi. Karena ia tahu dirinya pun penuh kekurangan.

Lalu datanglah satu rahasia yang menggetarkan jiwa.
Jika ingin diwelasi Allah, maka welasilah manusia.

Bayangkan seseorang yang hidupnya sendiri sedang sulit. Tagihan menumpuk. Hati gelisah. Masa depan terasa kabur. Namun ketika ia melihat saudaranya sakit, ia angkat tangan dan berkata, “Ya Allah, sembuhkan dia.”
Ketika ia melihat orang lain terlilit masalah, ia berdoa, “Ya Allah, lapangkan urusannya.”
Ia tidak menyebut dirinya. Ia mendahulukan yang lain.

Di saat seperti itu, langit tidak diam.
Para ulama mengajarkan, doa untuk orang lain tidak pernah sia-sia. Bahkan ada isyarat kemuliaan yang lebih dalam: seakan Allah SWT menjawab dengan penuh kasih, “Iya, engkau Aku dahulukan.”

Mengapa didahulukan?
Karena ia tidak egois. Karena di tengah kebutuhannya, ia masih memikirkan orang lain. Karena hatinya lebih luas daripada lukanya.

Tangis yang paling indah bukan hanya karena merasa susah, tetapi karena merasa kecil di hadapan Allah dan peduli kepada sesama.

Bayangkan jika kita mulai membiasakan ini…
Setiap bertemu orang, kita doakan dalam diam.
Setiap melihat kesusahan, kita bisikkan permohonan kepada Allah untuknya.
Setiap mendengar kabar duka, kita hadirkan doa, bukan sekadar komentar.

Hati yang seperti itu akan berubah. Ia akan lembut. Ia akan mudah menangis ketika mendengar ayat Allah. Ia akan mudah tersentuh melihat penderitaan manusia.
Karena ia sadar: kita semua sama-sama fakir. Sama-sama butuh rahmat. Sama-sama berharap keselamatan.

Maka sebelum meminta Allah mengangkat beban kita, angkatlah doa untuk orang lain.
Sebelum berharap Allah menyembuhkan luka kita, sembuhkanlah hati dengan mendoakan sesama.

Bisa jadi, saat kita tulus berkata,
“Ya Allah, tolonglah mereka,”
Allah telah lebih dulu menolong kita.

Di situlah rahasia itu bekerja.
Di situlah hati yang keras menjadi lunak.
Di situlah air mata jatuh bukan karena putus asa, tetapi karena sadar, kita ini hamba yang sepenuhnya bergantung, dan hanya dengan welas kepada sesama, kita pantas berharap welas dari-Nya. (hambaAllah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *